FN Indonesia Pekanbaru - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menggelar kegiatan Bincang-Bincang Konservasi bersama awak media dengan mengusung tema “Bersinergi untuk Masa Depan Gajah Sumatera: Edukasi, Kolaborasi, dan Konservasi”. Kegiatan ini berlangsung di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Sabtu (13/12/2025). 

Kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi sekaligus diskusi terbuka antara BBKSDA Riau, mitra, dan insan pers dalam upaya meningkatkan pemahaman serta dukungan publik terhadap pelestarian Gajah Sumatera. 

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, dalam pemaparannya menjelaskan bahwa saat ini Provinsi Riau memiliki delapan kantong habitat gajah yang tersebar dari wilayah perbatasan Sumatera Utara hingga perbatasan Jambi. 

“Berdasarkan data terbaru, populasi gajah liar di Riau saat ini diperkirakan sekitar 216 ekor. Jumlah ini memang mengalami penurunan jika dibandingkan sejak tahun 1980-an,” ucap Supartono. 

Ia menyebutkan beberapa faktor utama penyebab penurunan populasi tersebut, di antaranya perburuan liar, kematian alami, hingga kasus gajah yang mati akibat racun. 

Meski demikian, Supartono menegaskan bahwa kondisi populasi gajah di Riau saat ini masih tergolong cukup aman, karena hasil kajian lapangan menunjukkan masih banyak ditemukan anak-anak gajah, terutama di kantong habitat Tesso dan kawasan Giam Siak Kecil (GSK). 

Sebagai upaya perlindungan jangka panjang, BBKSDA Riau berkomitmen mempertahankan seluruh kantong habitat yang ada. Selain itu, pihaknya juga memprioritaskan pembangunan koridor satwa untuk menghubungkan beberapa kantong utama. 

“Empat kantong habitat yang menjadi prioritas untuk dihubungkan melalui koridor adalah kawasan GSK–SM Balai Raja, serta kantong Tesso Utara dan Tesso Tenggara. Koridor ini penting agar pergerakan gajah tetap aman dan habitatnya tetap berkelanjutan,” jelas Supartono. 

Supartono juga menjelaskan sejarah dan fungsi Pusat Latihan Gajah (PLG), yang awalnya didirikan pada era 1980-an sebagai pusat penanganan konflik gajah dan manusia. 

“Awalnya PLG dibentuk untuk menangani gajah-gajah konflik yang ditangkap, kemudian dilatih agar bisa digunakan untuk membantu penanganan konflik tersebut,” jelasnya. 

Seiring perkembangan, gajah-gajah binaan di PLG kini juga memiliki peran lain, seperti patroli kawasan hutan, mitigasi konflik satwa liar, hingga edukasi konservasi kepada masyarakat. 

Saat ini, BBKSDA Riau mengelola 23 ekor gajah binaan yang tersebar di PLG Sebangga, PLG Minas, dan PKG Bulu Cina. Khusus di PLG Minas, terdapat 14 ekor gajah, terdiri dari 10 jantan dan 4 betina. 

“Setiap gajah memiliki keahlian berbeda, ada yang khusus untuk patroli, ada yang untuk penanganan konflik. Biasanya gajah jantan lebih sering dilibatkan dalam mitigasi konflik, tergantung tingkat kesulitan konflik di lapangan,” jelasnya. 

Penurunan gajah untuk penanganan konflik, lanjut Supartono, tidak dilakukan setiap saat, melainkan berdasarkan kondisi dan tingkat ancaman yang ada di lokasi. 

Selain sebagai pusat konservasi, PLG Minas juga menjadi lokasi edukasi dan wisata konservasi yang terbuka bagi masyarakat. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan gajah, memberi makan, hingga menyaksikan aktivitas memandikan gajah. 

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan wisata, tetapi juga untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya perlindungan Gajah Sumatera,” kata Supartono. 

Melalui kegiatan bincang-bincang ini, BBKSDA Riau berharap terjalin sinergi yang kuat antara pemerintah, media, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian Gajah Sumatera yang kini berstatus satwa dilindungi dan terancam punah. 

Dokumentasi Gajah (PLG Minas) :