FN Indonesia Pekanbaru - Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali mengalami penurunan dan mulai berada pada kategori tidak sehat. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi asap dan polutan dari wilayah selatan Sumatera yang terbawa angin menuju Riau. 

Kepala BMKG Pekanbaru, Warjono, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena arah angin saat ini bergerak dari selatan menuju wilayah Riau. Angin tersebut membawa polutan dari sejumlah wilayah yang masih mengalami kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. 

"Ya kualitas udara di Riau, terpantau di Pekanbaru ini sekarang mulai tidak sehat kembali karena memang ada inputan, artinya asap berasal dari selatan," tutur Warjono. 

Menurutnya, arah angin dari selatan masih membawa polutan yang berasal dari sejumlah wilayah di Sumatera. Di antaranya Jambi, Sumatera Selatan, hingga Bengkulu. 

Warjono menyebut berdasarkan pemantauan BMKG, terdapat sekitar 114 titik hotspot yang terpantau di wilayah Riau. Namun, jumlah hotspot di sejumlah wilayah lain di Pulau Sumatera jauh lebih tinggi. 

"Untuk Riau sendiri terpantau sekitar 114, tapi itu sedikit. Sementara di Sumatera lebih banyak lagi. Di Sumatera Selatan itu lebih banyak, sekitar seribu lebih di sana," jelasnya. 

Untuk wilayah Riau, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi salah satunya terpantau di Kabupaten Kepulauan Meranti. 

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena polutan dari wilayah selatan dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di Riau, termasuk Pekanbaru. 

Di tengah kondisi kualitas udara yang kembali memburuk, BMKG bersama tim terkait masih melaksanakan operasi modifikasi cuaca atau OMC. 

Warjono mengatakan pelaksanaan OMC dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan hujan. Penyemaian dilakukan ketika terdapat awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan. 

"Masih kita lakukan operasi modifikasi cuaca. Tapi masih memantau. Kalau ada potensi hujan tentunya kita lakukan, tapi kalau tidak ada, sambil memantau dan menunggu ketika sudah mulai ada, kita lakukan OMC," katanya. 

Namun, dalam beberapa hari ke depan, potensi hujan di wilayah Riau diperkirakan masih cenderung berkurang. 

BMKG memperkirakan kondisi tersebut berlangsung setidaknya hingga tiga hari ke depan. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perkembangan awan yang berpotensi disemai. 

"Potensi hujan berkurang. Beberapa hari ke depan ini mungkin tiga hari ke depan juga masih berkurang, tapi tetap kami pantau. Ketika ada potensi untuk disemai akan dilakukan penyemaian," ujar Warjono. 

Warjono juga menjelaskan hujan yang terjadi di sejumlah wilayah Riau dalam dua hari sebelumnya turut berkaitan dengan pelaksanaan OMC. 

Saat itu, kondisi atmosfer menunjukkan adanya potensi pertumbuhan awan hujan. Tim OMC kemudian melakukan penyemaian dengan menambahkan bahan semai berupa garam ke dalam awan yang berpotensi menghasilkan hujan. 

"Dua hari kemarin itu potensi hujannya ada sehingga dilakukan semai oleh OMC tim kami dari BMKG. Kami memantau kondisi pertumbuhan awan dan dilakukan penyemaian garam dan menghasilkan hujan," jelasnya. 

Menurut Warjono, hujan yang turun cukup deras karena penyemaian dilakukan ketika memang sudah terdapat potensi hujan. Penambahan bahan semai membantu meningkatkan jumlah air hujan yang dihasilkan dari awan tersebut. 

"Karena memang ditambah, jadi pas lagi ada potensi hujan ditambah lagi jumlahnya sehingga menjadi lebih banyak dan cukup deras," pungkasnya.