FN Indonesia Pekanbaru - Kepolisian Daerah (Polda) Riau menggelar kegiatan bertajuk “Youth Green Policing Eco Academy” yang diikuti ribuan pelajar SMA dan SMK se-Kota Pekanbaru. Kegiatan ini berlangsung di GOR Tribuana Pekanbaru, Kamis (15/1/2026), sebagai bagian dari komitmen Polda Riau dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, didampingi Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki Haryadi. Turut hadir Danrem, Kepala BNN Provinsi Riau, Wali Kota Pekanbaru, jajaran pejabat utama Polda Riau, para kapolres, rektor perguruan tinggi, kepala sekolah, serta ratusan pelajar.




Sejumlah tokoh nasional dan daerah juga tampak hadir, di antaranya Pendiri Tumbuh Institute Rocky Gerung, Profesor Robertus Robet, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, serta influencer dan akademisi Sherly Annavita Rahmi.

Dalam sambutannya, Kapolda Riau memperkenalkan Wakapolda Riau yang baru menjabat sehari sebelumnya, Brigjen Pol Hengki Haryadi. Irjen Herry menyampaikan rekam jejak Wakapolda yang dinilai inspiratif bagi generasi muda.

“Beliau ini lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan pertama, dan di usia remaja pernah menjadi anggota Paskibraka di Istana Negara. Usianya dulu hampir sama dengan adik-adik semua di sini,” ujar Kapolda.

Kapolda juga mengapresiasi Wali Kota Pekanbaru yang dinilai aktif mendorong konsep Green City demi mewujudkan Pekanbaru yang bersih, hijau, dan modern.

“Kita berlomba siapa yang paling cepat menghijaukan Riau dan membersihkan sampah, agar Pekanbaru bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain di Sumatera,” ucapnya.




Irjen Herry Heryawan menegaskan bahwa kegiatan Youth Green Policing Eco Academy bukan sekadar seremoni, melainkan gerakan moral dan aksi nyata untuk menyelamatkan lingkungan Riau yang kian terancam.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas hutan di Provinsi Riau pada tahun 2014 mencapai 5,6 juta hektare. Namun pada 2023, luas tersebut menyusut drastis menjadi sekitar 1,4 juta hektare atau hilang hampir 75 persen akibat deforestasi dan kebakaran hutan.

“Ini bukan sekadar angka. Dampaknya nyata, kabut asap, polusi udara, banjir, dan gangguan kesehatan yang pernah kita rasakan bersama,” tegas Kapolda.

Ia mengingatkan para pelajar akan masa-masa sulit saat kabut asap parah melanda Riau, ketika aktivitas sekolah terganggu, masyarakat dilarang keluar rumah, dan penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II sempat ditutup.

Kapolda menilai generasi Z memiliki peran strategis sebagai agen perubahan karena merupakan digital natives, berani bersuara, serta berorientasi pada aksi nyata.

“Satu unggahan kalian di media sosial bisa menjangkau jutaan orang. Satu video tentang hutan Riau, tentang sampah, tentang kepedulian lingkungan, bisa menggugah kesadaran banyak pihak,” katanya.

Selain itu, Kapolda juga mendorong generasi muda untuk berani mengkritisi kebijakan atau pihak-pihak yang merusak lingkungan, termasuk pemerintah maupun aparat penegak hukum, demi keadilan ekologis.

Sebagai bentuk komitmen nyata program Green Policing, Kapolda mengungkapkan bahwa aksi kolektif pelajar bersama Polda Riau telah berhasil menanam sebanyak 21.000 batang pohon di berbagai wilayah.

“Kalian bukan hanya generasi pewaris, tapi generasi penyelamat Riau. Masa depan hutan, sungai, dan lingkungan ada di tangan kalian,” tutup Irjen Pol Herry Heryawan. (F)