Polda Riau Gandeng Rocky Gerung Bangun Kesadaran Ekologi Generasi Z di Youth Green Policing Eco Academy
FN Indonesia Pekanbaru - Kepolisian Daerah (Polda) Riau menggelar kegiatan bertajuk “Youth Green Policing Eco Academy” yang diikuti ribuan pelajar SMA dan SMK se-Kota Pekanbaru. Kegiatan ini berlangsung di GOR Tribuana Pekanbaru, Kamis (15/1/2026) pagi.
Kegiatan dipimpin langsung oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan didampingi Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki Haryadi. Turut hadir Danrem, Kepala BNN Provinsi Riau, Wali Kota Pekanbaru, jajaran pejabat utama Polda Riau, para kapolres, pimpinan perguruan tinggi, kepala sekolah, serta ratusan pelajar dari berbagai sekolah.
Sejumlah tokoh nasional dan daerah juga hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pendiri Tumbuh Institute Rocky Gerung, akademisi Profesor Robertus Robet, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, serta influencer dan dosen Universitas Paramadina, Sherly Annavita Rahmi.

Dalam sesi pemaparannya, Rocky Gerung menyampaikan pesan mendalam kepada para pelajar tentang pentingnya kesadaran ekologis serta keterhubungan antara persoalan lingkungan lokal dengan dampak global. Menurutnya, generasi muda di Pekanbaru saat ini telah terhubung secara digital dengan dunia internasional, sehingga setiap tindakan di daerah dapat dengan cepat menjadi perhatian global.
“Anak muda di Pekanbaru hari ini terhubung langsung dengan Eropa, Amerika, dan Afrika. Perbuatan kecil di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, atau Riau bisa dilihat sebagai persoalan besar oleh dunia,” tutur Rocky.
Ia mencontohkan kasus kayu asal Indonesia bernilai sekitar Rp2 miliar yang ditolak masuk ke Finlandia karena tidak memiliki sertifikat yang menjamin kayu tersebut bukan hasil deforestasi atau penebangan liar. Menurutnya, kasus ini menunjukkan bahwa standar lingkungan global kini menjadi ukuran penting dalam perdagangan internasional.
Rocky juga menjelaskan konsep Antroposen, yakni sebuah era di mana kerusakan bumi akibat aktivitas manusia telah mencapai tingkat yang sulit dipulihkan secara alami. Ia menegaskan bahwa bumi mampu memulihkan dirinya sendiri apabila kerusakan terjadi secara alami, namun akan “menyerah” ketika keinginan manusia melampaui kebutuhannya.

Dalam keterangannya, Rocky turut mengulas buku legendaris Silent Spring karya Rachel Carson, yang menjadi tonggak awal gerakan lingkungan hidup dunia. Buku tersebut berangkat dari pengamatan seorang guru di Ohio, Amerika Serikat, yang menyadari hilangnya kicauan burung di musim semi akibat penggunaan pestisida secara masif.
“Jika di Amerika masalahnya adalah pestisida, maka di Riau masalah utamanya adalah asap akibat kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Menurut Rocky, Provinsi Riau memiliki posisi strategis untuk memulai peradaban baru yang berbasis perlindungan lingkungan melalui penerapan Green Policy atau kebijakan hijau. Ia menekankan pentingnya perubahan cara pandang, mulai dari kurikulum pendidikan, gaya hidup, hingga kebijakan publik.
Ia juga mendorong lahirnya pemimpin masa depan yang memiliki keyakinan bahwa alam, termasuk sebatang pohon, memiliki hak untuk hidup dan menjalankan fungsinya bagi keseimbangan ekosistem.
“Jarak antara hulu ke hilir, antara mata air ke air mata, itulah inti persoalan lingkungan yang kita hadapi hari ini,” tutup Rocky.

Kegiatan Youth Green Policing Eco Academy ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran kolektif generasi muda Riau untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan, sekaligus memperkuat sinergi antara kepolisian, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (F)
0 Komentar