Karhutla Bengkalis dan Inhu Masih Ditangani, Akses Sulit dan Minim Sumber Air Jadi Kendala
FN Indonesia Bengkalis - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Riau. Tim gabungan harus menghadapi kondisi lahan gambut, keterbatasan sumber air hingga sulitnya akses menuju titik api.
Di Desa Teluk Lancar, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, kebakaran terjadi di lahan gambut berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) dengan luas sekitar 6 hektare. Hingga hari ketiga penanganan, tim telah berhasil memadamkan sekitar 3,3 hektare lahan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan kondisi di lokasi masih memerlukan penanganan lanjutan. Asap masih terlihat di sejumlah titik sehingga proses pemadaman dan pendinginan terus dilakukan.
Vegetasi yang terbakar di kawasan tersebut terdiri dari sagu, pakis, resam dan semak belukar. Kondisi gambut membuat proses pemadaman harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan bara tidak kembali menyala.
“Masih terdapat asap, sehingga diperlukan pemadaman lanjutan untuk memastikan kondisi benar-benar aman,” kata Ferdian.
Pemadaman di Teluk Lancar dilakukan Manggala Agni bersama BPBD, TNI dan Polri. Operasi tersebut juga mendapat dukungan water bombing dari BNPB untuk membantu menjangkau area yang sulit ditangani dari darat.
Keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi tim di lapangan. Kondisi tersebut membuat dukungan dari udara diperlukan untuk mempercepat penanganan di beberapa bagian lokasi.
Sementara itu, penanganan Karhutla juga berlangsung di sejumlah titik di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).
Di Desa Pulau Jumat, Kecamatan Kuala Cenaku, operasi pemadaman telah memasuki hari kelima. Lokasi tersebut merupakan kawasan gambut dengan akses menuju bagian kepala api yang belum seluruhnya dapat dijangkau tim darat.
Selain kondisi angin dan keterbatasan sumber air, bahan bakar padat di lokasi turut menjadi tantangan. Untuk membuka akses menuju titik api, tim mengerahkan lima unit alat berat.
Tim juga membangun embung sebagai sumber air sekaligus melakukan serangan langsung terhadap kepala api. Penanganan dari darat diperkuat dengan dukungan helikopter water bombing.
Lokasi tersebut sebelumnya juga ditinjau langsung Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo untuk melihat perkembangan pemadaman dan pendinginan.
Penanganan berikutnya dilakukan di Desa Kampung Pulau, Kecamatan Rengat. Karhutla di lokasi ini baru memasuki hari pertama dan terjadi di lahan gambut.
Akses menuju titik serangan menjadi kendala bagi personel. Tim harus berjalan kaki sekitar 5 kilometer dari batas akhir kendaraan untuk mencapai lokasi. Selain itu, sejumlah titik api tersebar dan berada cukup berjauhan.
Manggala Agni bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas dikerahkan untuk melakukan penanganan. Tim mengoptimalkan embung yang tersedia sebagai sumber air untuk mendukung serangan ke titik api.
Sementara di Desa Rantau Mampesai, Kecamatan Rengat, penanganan Karhutla juga baru memasuki hari pertama. Lokasi kebakaran berada di kawasan hutan primer dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan.
Manggala Agni bersama tim BBKSDA Riau melakukan mobilisasi menuju lokasi melalui jalur perairan. Tim masih melakukan persiapan operasi pemadaman untuk menjangkau titik kebakaran.
Kondisi sungai yang debit airnya menurun turut menyulitkan mobilisasi. Personel bahkan harus turun ke air untuk membantu mendorong perahu agar dapat melewati jalur menuju lokasi penanganan.
Rangkaian penanganan tersebut menunjukkan tantangan Karhutla di Riau tidak hanya berkaitan dengan luas area terbakar, tetapi juga karakteristik gambut, kondisi vegetasi, sumber air serta akses menuju titik api.
Tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan hingga kondisi di setiap lokasi dinyatakan aman, sekaligus mencegah api kembali muncul dan meluas ke kawasan lainnya.
0 Komentar