FN Indonesia Pekanbaru - Ratusan anggota dari 12 kabupaten dan kota di Provinsi Riau menghadiri kegiatan Pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Rakyat Provinsi Riau, Jumat (7/11/2025).

Acara tersebut turut dihadiri langsung oleh Anies Rasyid Baswedan, didampingi oleh jajaran Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB) Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Kegiatan berlangsung di Balai Adat Melayu Riau, Pekanbaru, dan diisi dengan sejumlah agenda, antara lain dialog kebangsaan di kampus, kegiatan sosial di Masjid Raya bersama tokoh Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Pekanbaru, serta pelantikan dan pemaparan materi kebangsaan.

Dalam kegiatan tersebut, fn-indonesia.com merangkum pokok-pokok materi kebangsaan yang disampaikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.

Dalam pidatonya, Anies Baswedan kembali menyoroti isu ketimpangan ekonomi dan keadilan sosial sebagai tantangan besar bangsa Indonesia saat ini. Ia mengaitkan tema tersebut dengan refleksi sejarah kemerdekaan.

“Delapan puluh tahun yang lalu, bangsa ini memilih merdeka karena sistem kolonial menghasilkan ketimpangan yang luar biasa. Pemegang kewenangan mengalami peningkatan kemakmuran, sementara rakyat kebanyakan tertinggal dalam kemiskinan dan keterbelakangan,” tandas Anies.

Anies menegaskan bahwa kemerdekaan sejatinya harus menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia menyinggung bahwa di masa lalu, kekayaan alam Indonesia justru membuat bangsa lain makmur, dan kondisi semacam itu tidak boleh terulang.

“Dari mana kekayaan negeri lain, Dari sini. Karena itu, kita ingin merdeka agar bisa makmur dengan apa yang kita miliki di negeri sendiri,” lanjutnya.

Pidato tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Anies di Riau, yang dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan alam melimpah di Sumatera.

Selain menyoroti isu ketimpangan, Anies juga menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan di tengah perbedaan pilihan politik. Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan adalah hal lumrah dalam demokrasi, namun tidak boleh merusak ikatan kekeluargaan antarwarga bangsa.

“Perbedaan pandangan dan pilihan itu hal biasa. Tapi persaudaraan dan persatuan adalah harga mahal yang harus kita jaga bersama. Jangan sampai perbedaan membuat kita saling menjauh, apalagi memutus tali silaturahmi,” ucapnya.

Anies mencontohkan bahwa bahkan dalam satu keluarga besar sekalipun, perbedaan pilihan politik bisa terjadi. Namun, sikap dewasa dan saling menghormati menjadi kunci agar pesta demokrasi tidak meninggalkan luka sosial.

“Kita ini bersaudara. Boleh beda pandangan, tapi tetap satu keluarga. Ketika kita memilih, itu hanya tugas sementara. Persaudaraan itu untuk selamanya.” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Anies juga menyoroti pentingnya reformasi pendidikan, penguatan budaya Melayu, dan keadilan ekonomi sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.

Menurutnya, sistem pendidikan nasional harus bertransformasi dari pola pikir abad ke-20 menuju pola pikir abad ke-21.

“Pendidikan harus menjadi eskalator sosial yang merata, memastikan setiap anak termasuk di Riau memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi besar dan mewujudkannya,” jelasnya.

Anies juga memuji peran masyarakat serta adat Melayu Riau dalam menjaga khazanah budaya bangsa. Ia mengajak agar nilai-nilai luhur budaya tersebut terus diintegrasikan dalam pembangunan daerah dan nasional.

Dalam konteks Riau sebagai salah satu pusat energi dan sumber daya alam nasional, Anies menegaskan pentingnya kebijakan yang berpihak pada pemerataan hasil kekayaan alam.

“Keadilan sosial harus dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya di pusat, tetapi juga di daerah penghasil,” tutupnya.