FN Indonesia Pekanbaru – Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II) Pekanbaru, Rabu (7/10/2026). Jarak pandang di kawasan bandara sempat berada di bawah batas minimum keselamatan penerbangan. 

Kondisi tersebut menyebabkan dua pesawat yang datang dari Jakarta mengalami perubahan operasional. Satu pesawat harus kembali ke Bandara Soekarno-Hatta atau Return to Base (RTB), sementara satu penerbangan lainnya dialihkan atau divert ke Bandara Hang Nadim, Batam. 

GM Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Ahmad melalui Division Head Operation & Services Bandara SSK II Pekanbaru, Imamura Ginting, mengatakan gangguan terjadi pada pagi hari ketika jarak pandang di sekitar bandara berada di bawah batas minimum. 

“Jadi tadi pagi memang ada situasi cuaca yang kurang baik. Jarak pandang di Bandara SSK II berada di bawah batas minimal,” kata Imamura. 

Pesawat Lion Air JT 292 yang terbang dari Jakarta menuju Pekanbaru menjadi salah satu penerbangan yang terdampak. Pesawat tersebut harus kembali ke Bandara Soekarno-Hatta karena kondisi jarak pandang yang tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan. 

Sementara itu, pesawat Citilink dari Jakarta menuju Pekanbaru sempat dialihkan ke Bandara Hang Nadim, Batam. Namun, setelah kondisi membaik, pesawat tersebut akhirnya dapat melanjutkan penerbangan dan mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru. 

Untuk penerbangan Lion Air yang sempat kembali ke Jakarta, pihak bandara mendapat informasi dari maskapai bahwa pesawat dijadwalkan kembali terbang dari Jakarta menuju Pekanbaru sekitar pukul 12.20 WIB. 

Imamura menyebut kondisi jarak pandang di Bandara SSK II Pekanbaru berangsur membaik. Saat ini jarak pandang telah mencapai sekitar 900 meter atau berada di atas batas minimum yang ditetapkan. 

Dengan membaiknya kondisi tersebut, operasional penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru kembali berjalan normal, baik untuk pesawat yang akan berangkat maupun yang akan mendarat. 

Pihak pengelola bandara juga mengaktifkan Service Recovery Activation atau SRA untuk membantu penumpang yang terdampak keterlambatan penerbangan. Bantuan yang diberikan antara lain masker dan air minum bagi penumpang yang masih menunggu di area terminal. 

Terkait keputusan pesawat untuk mendarat, mengalihkan penerbangan maupun kembali ke bandara asal, Imamura mengatakan keputusan akhir berada di tangan pilot masing-masing maskapai. 

Pihak bandara, kata dia, hanya memberikan informasi mengenai kondisi terkini di lapangan, termasuk jarak pandang dan situasi operasional. Selanjutnya, keputusan penerbangan ditentukan pilot dengan mempertimbangkan aspek keselamatan. 

“Semua itu didasarkan oleh faktor keselamatan. Kami menginformasikan kondisi di darat, jarak pandang dan lainnya. Keputusan untuk landing, divert ataupun RTB kembali kepada pilot masing-masing maskapai,” jelasnya. 

Meski sempat mengganggu operasional penerbangan, kondisi kabut asap sejauh ini belum berdampak terhadap jumlah penumpang di Bandara SSK II Pekanbaru. 

Imamura menyebut rata-rata jumlah penumpang yang dilayani bandara tersebut masih berada di kisaran 7.000 hingga 8.000 orang per hari. 

“Belum ada dampak terhadap jumlah penumpang. Sejauh ini hanya operasional yang sementara terganggu,” ujarnya. 

Ia menambahkan, kondisi jarak pandang di bawah batas minimum akibat kabut asap seperti yang terjadi pagi ini merupakan gangguan pertama dalam satu hingga dua bulan terakhir. Sebelumnya, jarak pandang di Bandara SSK II Pekanbaru masih berada di atas batas minimum operasional.