FN Indonesia Pekanbaru – Kabut dan asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Riau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyebut kualitas udara sempat mencapai kategori sangat tidak sehat pada siang hari. Sementara itu, kabut tebal pada pagi hari turut menyebabkan penurunan jarak pandang. 

Kepala BMKG Pekanbaru, Warjono, menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh perpaduan kabut dan asap yang terbawa angin dari sejumlah wilayah, di antaranya Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan. 

Menurutnya, angin yang bertiup dari arah timur hingga tenggara serta selatan berpotensi membawa asap dari luar Riau. Kondisi ini terjadi meskipun jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Riau terpantau relatif sedikit. 

“Kalau pagi hari, kabut yang terlihat pekat itu belum tentu asap. Ada fenomena kabut atau fog yang terbentuk akibat kondisi udara lembap. Namun, sebagian kabut tersebut bercampur dengan asap yang masuk dari wilayah lain,” jelas Warjono. 

Ia menerangkan, kabut terbentuk ketika suhu udara mendekati titik embun sehingga kelembapan meningkat dan butiran air terbentuk di dekat permukaan bumi. Fenomena tersebut dapat mengurangi jarak pandang, terutama ketika bercampur dengan partikel asap. 

Warjono memperkirakan kondisi kabut dan asap masih berpotensi berulang dalam beberapa hari ke depan. Pada malam hingga dini hari, kabut dan asap dapat bertahan di dekat permukaan bumi akibat kondisi atmosfer yang menghambat pergerakan udara ke lapisan atas. 

Akibatnya, jarak pandang berpotensi kembali menurun pada pagi hari. Kabut biasanya berangsur menipis seiring meningkatnya suhu setelah matahari terbit. Meski demikian, partikel asap yang masih berada di udara dapat memengaruhi kualitas udara. 

Dari sisi cuaca, BMKG memperkirakan hujan masih berpotensi terjadi di wilayah Riau hingga 15 Oktober, dengan intensitas ringan hingga sedang. Peluang hujan diperkirakan mulai berkurang pada 16 Oktober. 

“Potensi kabut dan asap masih perlu diwaspadai di wilayah Riau. Kondisi kabut pada pagi hari perlu dibedakan dengan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan arah angin, asap dari wilayah Sumatera Selatan, Jambi hingga Kalimantan berpotensi terbawa masuk ke Riau,” tambahnya. 

Sementara itu, jumlah hotspot di Riau masih relatif sedikit, bahkan pada waktu tertentu tidak terdeteksi. Saat memberikan keterangan, Warjono menyebut terdapat sekitar tiga titik panas yang terpantau. 

Terkait fenomena El Nino, Warjono mengatakan pengaruhnya cukup kuat di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan khatulistiwa. Namun, dampaknya di Riau relatif tidak terlalu terasa karena wilayah tersebut mulai memasuki musim hujan. 

Meski demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai potensi cuaca ekstrem. Periode musim hujan yang lebih singkat dapat menyebabkan curah hujan terkonsentrasi pada waktu tertentu sehingga meningkatkan risiko hujan lebat. 

BMKG akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan menyampaikan peringatan dini apabila terdeteksi potensi cuaca ekstrem di wilayah Riau. 

Masyarakat juga diimbau memantau perkembangan kualitas udara, terutama pada pagi hari ketika jarak pandang cenderung menurun. Jika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan partikel asap.