Didukung CSR PHR, Maggot Jadi Motor Ekonomi di Bank Sampah Agrowisata Ibnu Al Mubarok
FN Indonesia Pekanbaru - Program pengembangan bank sampah di Agrowisata Ibnu Al Mubarok terus menunjukkan hasil positif. Berkat dukungan program CSR dari Pertamina Hulu Rokan, kawasan ini berkembang menjadi pusat pengelolaan sampah terpadu sekaligus penggerak ekonomi masyarakat berbasis UMKM.
Ketua Yayasan Agrowisata Ibnu Al Mubarok, Rinwiningsih, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah kini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru. Salah satu yang paling menonjol adalah budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF).
“Dalam satu bulan, kami mampu mengolah hingga 4 sampai 5 ton limbah organik, dimanfaatkan sebagai pakan maggot premium,” ujarnya.
Menurut Rinwiningsih, maggot yang dibudidayakan memiliki nilai jual tinggi. Maggot segar maupun olahan dijual untuk kebutuhan pakan ikan, hamster, hingga kelinci. Bahkan, telur BSF menjadi komoditas paling mahal, dengan harga mencapai Rp1 juta per kilogram.
Proses budidaya maggot tergolong cepat. Dalam waktu 1 hingga 5 hari telur menetas, kemudian dalam 30 hari maggot sudah siap panen. Setelah memasuki fase prepupa hingga pupa, maggot akan berubah menjadi lalat BSF yang kembali menghasilkan telur.
Selain dijual dalam bentuk segar, maggot juga diolah menjadi produk siap jual. “Setelah dipanen, maggot dibersihkan, dipuasakan satu hari, lalu digoreng dan dikemas dalam botol. Produk ini sudah punya pasar tetap,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada pengelolaan sampah, Agrowisata Ibnu Al Mubarok juga mengembangkan berbagai sektor lain seperti pertanian, peternakan kelinci, hingga produksi batik kukus. Bahkan, terdapat puluhan pohon kelengkeng yang turut mendukung aktivitas agrowisata.
Meski baru sekitar enam bulan berdiri setelah bertransformasi dari lembaga pendidikan, kawasan ini menunjukkan perkembangan pesat. Pembinaan berkelanjutan dari Pertamina Hulu Rokan menjadi salah satu kunci keberhasilan. (F)
0 Komentar