Cerita Mirshal, Sulap Pekarangan Sempit Jadi Kebun Hidroponik Hasilkan Cuan dan Inspirasi
FN Indonesia Pekanbaru - Di sebuah gang kecil di Kota Pekanbaru, tepatnya di Gang Merica, Jalan Kopi, Kelurahan Tangkerang Labuai, suasana hijau terasa kontras dengan hiruk pikuk kota. Di sanalah Mirshal (60) membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk bertani.
Dengan pekarangan depan rumah yang hanya sekitar 2,6 meter, pria yang akrab disapa Achenk ini berhasil menyulap ruang sempit menjadi kebun hidroponik yang produktif. Deretan tanaman seperti pakcoy, cabai, terong, selada, hingga bayam tumbuh subur, menghadirkan kesejukan sekaligus sumber penghasilan.
Bagi Mirshal, bertani bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Ini adalah perjalanan panjang yang dimulai dari hobi masa kecil, saat ia kerap membantu orang tuanya berladang. Setelah menikah pada 1993, ia mulai menanam berbagai tanaman di pekarangan rumah, meski saat itu masih menggunakan media tanah.
Perjalanan hidup membawanya menjadi seorang fotografer di media cetak. Namun, setelah pensiun, kecintaannya pada dunia pertanian kembali tumbuh. Tahun 2016 menjadi titik balik, ketika ia mulai mencoba sistem hidroponik.
“Awalnya saya coba tanam pakcoy, ternyata berhasil. Dari situ saya makin tertarik belajar,” kenangnya.
Tanpa latar belakang pendidikan pertanian, Mirshal belajar secara otodidak. Ia memanfaatkan berbagai sumber informasi dan terus bereksperimen. Upayanya tak sia-sia. Tanaman hidroponiknya berkembang pesat dan menarik perhatian berbagai pihak, termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pekanbaru yang kemudian memberikan dukungan peralatan.
Tak berhenti di situ, kiprahnya semakin dikenal setelah ia membagikan hasil kebunnya di media sosial. Bahkan, ia sempat mengikuti studi banding ke Medan untuk memperdalam ilmu hidroponik.
Kini, kebunnya tak hanya ditanami pakcoy. Beragam tanaman seperti cabai, terong, kailan, hingga kangkung berhasil ia budidayakan dengan metode hidroponik.
Keberhasilan Mirshal juga berdampak luas bagi lingkungan sekitarnya. Kawasan tempat tinggalnya kini berkembang menjadi Kampung Berseri Astra Indah Madani, dan ia dipercaya sebagai Local Champion.
“Sekarang sudah ada empat kelompok di lingkungan sini yang mengembangkan hidroponik. Satu kelompok sudah panen, tiga lainnya masih proses,” ujarnya.
Menariknya, semua itu dimulai dari modal yang sangat minim. Mirshal mengaku hanya mengeluarkan kurang dari Rp100 ribu untuk membeli benih. Selebihnya, ia memanfaatkan barang bekas seperti gelas plastik, kaleng, hingga galon sebagai media tanam.
“Yang penting mau. Media tanam bisa dari barang bekas, biji juga bisa diambil dari dapur,” katanya sambil tersenyum.
Dari kebun kecilnya, Mirshal mampu meraih penghasilan jutaan rupiah setiap bulan. Selain menjual hasil panen, ia juga menjual tanaman siap tanam dengan harga bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp150.000 per pot.
Tak hanya soal ekonomi, kebun hidroponik ini juga membantu kebutuhan sehari-hari. Ia tak lagi bergantung pada pasar untuk membeli sayuran.
“Kalau mau masak, tinggal petik saja,” ujarnya.
Keahliannya membuat Mirshal kerap diundang menjadi instruktur di berbagai kegiatan, mulai dari sekolah hingga instansi pemerintah. Di ruang kerjanya, deretan piagam menjadi saksi kontribusinya dalam berbagi ilmu.
Bagi Mirshal, berbagi pengetahuan adalah kebanggaan tersendiri. Ia ingin semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan sempit untuk bertani.
“Minimal ibu-ibu punya kegiatan yang bermanfaat. Selain untuk konsumsi, juga bisa menambah penghasilan,” katanya.
Ia pun menegaskan, kunci utama bertani hidroponik bukanlah luas lahan, melainkan kemauan dan ketelatenan. Dengan nutrisi yang tepat, seperti AB Mix yang mengandung unsur hara lengkap, tanaman bisa tumbuh optimal.
Di tengah upaya pemerintah mendorong ketahanan pangan, kisah Mirshal menjadi contoh nyata bahwa solusi bisa dimulai dari rumah sendiri.
Dari pekarangan kecil di sudut kota, ia menanam harapan bahwa kemandirian pangan bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan oleh siapa saja. (F)
0 Komentar