11 Gajah Liar Rusak Kebun Semangka Warga di Pekanbaru, BBKSDA Riau Lakukan Pemantauan Intensif
FN Indonesia Pekanbaru - Konflik antara manusia dan satwa liar kembali terjadi di Kota Pekanbaru. Kawanan gajah liar dilaporkan masuk ke kawasan perkebunan warga di Kelurahan Muara Fajar Barat, Kecamatan Rumbai, dan merusak kebun semangka seluas sekitar 1,5 hektare.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang konflik antara manusia dan satwa dilindungi yang masih kerap terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Riau, khususnya di daerah yang berbatasan langsung dengan habitat dan jalur jelajah gajah Sumatera.
Menindaklanjuti laporan masyarakat, petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau langsung turun ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan sekaligus memantau keberadaan kawanan gajah yang masih berada tidak jauh dari area perkebunan warga.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan sedikitnya terdapat 11 ekor gajah liar yang terdeteksi berada di sekitar lokasi konflik.
Menurutnya, kawanan tersebut merupakan bagian dari kelompok Petapahan yang selama ini dikenal memiliki jalur jelajah alami di kawasan tersebut.
“Kelompok gajah yang ditemukan berjumlah sekitar 11 ekor. Mereka merupakan kelompok Petapahan yang memang memiliki wilayah jelajah di kawasan itu,” ujar Supartono.
Saat ini, posisi kawanan gajah diketahui berada di kawasan Tahura Sultan Syarif Kasim dengan jarak sekitar 500 meter dari lokasi kebun yang mengalami kerusakan.
Meski area kebun semangka yang dirusak berada di luar kawasan hutan, lokasi tersebut masih termasuk dalam jalur perlintasan alami gajah. Kondisi ini membuat potensi pertemuan antara manusia dan satwa liar masih cukup tinggi.
“Lokasi kebun memang berada di luar kawasan hutan, namun masih merupakan jalur jelajah gajah. Dari hasil pantauan di lapangan, sekitar 1,5 hektare kebun semangka mengalami kerusakan akibat dimasuki kawanan gajah liar,” jelasnya.
BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat yang berada di sekitar lokasi untuk segera melaporkan kepada petugas apabila kembali melihat keberadaan gajah liar. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah konflik yang dapat membahayakan keselamatan warga maupun satwa.
Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu agresivitas gajah atau membahayakan keberlangsungan hidup satwa yang berstatus dilindungi tersebut.
Supartono mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi kemunculan gajah liar. Menurutnya, warga kini lebih memahami prosedur penanganan konflik satwa dengan langsung melaporkan kejadian kepada BBKSDA Riau.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang saat ini sudah memahami ketika gajah keluar dari habitatnya, mereka langsung melapor kepada BBKSDA Riau sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” katanya.
Konflik manusia dan gajah hingga kini masih menjadi tantangan serius di Riau. Berkurangnya habitat alami akibat alih fungsi lahan disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong gajah keluar dari kawasan hutan dan memasuki area perkebunan maupun permukiman warga.
BBKSDA Riau memastikan pemantauan terhadap pergerakan kawanan gajah akan terus dilakukan guna mengantisipasi konflik susulan sekaligus menjaga keselamatan masyarakat di sekitar lokasi dan kelestarian gajah Sumatera di alam liar.
0 Komentar